# # # # # # # # # # # # #

New Books Release

sistem_teologi Cover_Buku_Peniel belajar
Rp 60.000,- Rp 40.000,- Rp 65.000,-
gereja Toraja Cover_Pengantar_Konseling
Rp 55.000,- Rp 40.000,- Rp 45.000,-

dr_daniel_ronda

Andrew_Brake_Books PW1
Rp 40.000,- Rp 100.000,-

Rp 40.000,-
Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

Dari Meja Ketua

Artikel Kepemimpinan: Tegas atau otoriter?

Saya penggemar kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia dikenal tegas, keras dan berani. Apakah ini sama dengan otoriter? Karena ada yang menganggap beliau sangar, mulutnya kotor dan tindak lakunya seperti melewati sopan santun ketimuran.

Tapi Jakarta memang sedang membutuhkan pemimpin pejuang (warrior style of leadership). Kota sudah acakadut, semrawut, banjir, sampah, sabotase dan banyak kekumuhan di sana-sini. Preman merajalela, sungai sudah tak berbentuk karena penuh hunian, pejabat-pejabat hidup dengan enaknya, kerja sedikit tapi korupsi tidak ampun-ampun, pengusaha pun terpaksa melayani para priyayi pegawai ini dengan membungkam dengan suap yang menyilaukan mata. Semua berkolaborasi menjadi satu yang menyebabkan Jakarta sudah tidak ada harapan. Hampir semua sudah berpikir bahwa kota ini sudah tidak ada yang bisa perbaiki dan sudah menyerah. Banjir sudah dianggap bagian kehidupan, macet dianggap biasa, korupsi bahkan dianggap kewajiban.

Ketika muncul Ahok dengan gaya tegasnya yang memimpin dengan keras sambil menindaki bahkan memecat PNS yang terlalu lama santai banyak yang terkaget-kaget. Tapi tentu banyak orang memberikan apresiasi karena mulai tampak perubahan dan terus akan berubah ke tempat yang lebih baik.

Gaya keras dan model peperangan ini memang hanya cocok dalam situasi yang krisis. Sebab bila terlalu lembek maka pasti pemimpin akan digilas. Tak dipungkiri bahwa ada resiko menjadi keras, tapi itu sebuah pilihan jika memang mau maju. Tapi tidak bisa juga sembarang keras atau asal keras. Ada beberapa yang perlu diperhatikan untuk memakai gaya keras dalam memimpin:

Pertama, kepemimpinan yang tegas dan keras harus disertai dengan kejujuran dan tidak korupsi. Bisa jadi tidak sempurna karena dianggap kasar, atau kelemahan-kelemahan lain yang teknis. Tapi soal jujur dan integritas itu hal yang mutlak dalam kepemimpinan. Jika mau tegas dan keras tapi tidak jujur, maka pemimpin akan mendapat julukan munafik.

Kedua, pemimpin tegas tidak bisa sendirian. Dia harus melibatkan banyak tokoh dan orang penting untuk menciptakan aliansi untuk membawa perubahan. Kisah Pak Ahok menarik karena dia menyadari bahwa Satpol PP tidak cukup melawan preman Jakarta yang begitu garang. Ormas agama saja dibuat lari tunggang langgang oleh para preman ketika suatu ketika mau melakukan razia. Jadi diperlukan kekuatan yang lebih besar dengan melibatkan aparat. Namun tidak sampai menjadi otoriter karena semua dilakukan secara transparan dan dibuntuti media. Itu yang membedakan tegas dan otoriter, di mana sikap otoriter menjadi represif bila media dan kritik dibungkam.

Ketiga, pemimpin yang tegas dan keras adalah seorang yang memberikan solusi penyelesaian. Kepemimpinan Pak Ahok menyediakan Rusun yang layak dan pendidikan memadai, pelatihan pekerjaan bagi mereka yang digusur. Prinsipnya adalah bila melakukan tindakan drastis dalam mengubah sesuatu, harus ada solusi lain yang lebih baik. Itu membuat gaya tegas dan keras semakin disukai.

Keempat, ketegasan tidak identik dengan marah-marah saja atau hukuman. Ketegasan dan keras itu memiliki sisi empati yaitu bila berhasil diberikan penghargaan (reward) dan sanksi jika melakukan kesalahan yang berulang dan disengaja. Empati menggambarkan sisi manusia pemimpin bahwa sikap tegasnya lahir untuk kebaikan orang yang dipimpinnya dan membawa organisasi atau rakyatnya kepada kehidupan yang lebih baik.

Kelima, tegas membutuhkan konsistensi dan keyakinan diri (confident). Artinya bahwa tidak bisa tegas pada satu hal dan pada waktu lain menjadi kompromi. Dibutuhkan konsistensi dalam bertindak tegas disertai suatu keyakinan bahwa Tuhan pasti menolong dan melindungi. Tanpa konsistensi maka tidak akan ada ketaatan dan rasa hormat dari bawahan karena tegas akan dimaknai sebagai arogansi dan otoriter sang pemimpin. Selamat belajar menjadi tegas (DR).

Sumber: http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/185-belajar-kepemimpinan-2-tegas-atau-otoriter.html

 

Artikel kepemimpinan: Menghadapi “Haters”

Ada istilah baru dalam media sosial untuk orang yang suka menyerang status-status seseorang lewat kritik bahkan hinaan. Namanya adalah haters alias pembenci! Disebut haters karena memang media sosial adalah dunia yang bebas beropini, mengeluarkan pendapat dan bebas menyatakan apa yang disukainya termasuk menyerang seseorang. Lagipula haters bisa menyembunyikan identitas sehingga bebas bicara.

Bagaimana jika pemimpin yang menghadapinya?

Haters bukan barang baru dalam dunia kepemimpinan. Sejak dulu pemimpin sudah dikritik, diserang bahkan dihina dan diturunkan. Itu adalah harga seorang pemimpin. Dia harus siap menghadapi berbagai kritik baik yang terbuka maupun yang diam-diam atau dijadikan gosip. Ada satu nasihat bijak, jika tidak mau dikritik ya jangan jadi pemimpin. Siapkan diri dan mental yang kuat hadapi semua kritik dan celaan. Walaupun seringkali cercaan dan gosip yang beredar itu adalah fitnah.

Cara menghadapi kritik ada berbagai ragam: pertama, dihadapi dengan prinsip “Gitu aja kok repot?!” Ini istilah dari Gus Dur yang cuek dan santai atas berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Ini adalah sikap yang santai terhadap kritik dan tidak terlalu ambil pusing. Sikap ini ada baiknya karena bisa terbebas dari stres dan ketegangan yang tiada habisnya karena kritik itu tidak akan pernah berhenti. Dia akan datang bertubi-tubi. Cuma sikap seperti ini tidak akan efektif karena biasanya dalam kritik ada jeritan hati dan ada unsur kebenarannya, sehingga kalau tidak diperhatikan pemimpin akan kehilangan kesempatan mendapatkan masukan untuk perbaikan diri dan programnya.

Kedua, ada gaya sensitif, di mana setiap kritik harus ditanggapi dan dihadapi dengan serius. Ini gaya Bapak SBY (mantan presiden RI) dalam menghadapi kritik. Banyak yang menyebutnya sebagai orang yang sangat sensitif atas kritik. Figur seperti ini adalah orang perfeksionis dan sangat peka bila dicela. Dia akan bereaksi dengan berbagai cara defensif dan bahkan ada pemimpin yang akan melakukan somasi untuk yang memfitnahnya. Kelemahan gaya ini adalah tentu membuat pemimpin lelah secara mental secara terus menerus. Jika tidak kuat bisa terjadi depresi karena merasa disalahkan dan gagal memperbaiki. Cuma kelebihannya adalah semua masukan mendapatkan perhatian sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

Ketiga, gaya ideal yaitu hadapi kritik dengan santai tapi serius. Artinya, pemimpin memilah mana gosip dan fitnah dan mana yang benar ada kebenarannya sehingga patut diresponi. Ini membutuhkan sikap rendah hati dan keterbukaan menerima fakta bahwa bahasa kritikan itu tidak sopan, penuh kata-kata sarkastik, tidak beretika, penuh hasutan dan tidak ada kesantunan di dalamnya. Sulit memilah isi yang baik ketika disampaikan dengan kalimat-kalimat sadis yang sangat merendahkan. Dibutuhkan sikap santai dan dewasa untuk terbiasa melihat kata hujatan, makian yang tidak ada batasnya. Tidak mungkin hati tidak tersayat melihat kalimat yang betul-betul mengaduk-aduk emosi. Tapi dengan latihan-latihan serta melihat bagaimana para pemimpin negeri ini dicela tiap hari, pemimpin akan bisa berkata: “Orang selevel Ahok dan Jokowi dimaki tiap hari aja santai, kok saya tidak bisa?” Jadi ada banyak pemimpin hebat di atas kita yang sudah tiap hari makan hujatan para haters tapi tetap tegar dan hidup serta bisa menjalani kehidupan dengan baik. Contoh itu menyemangati pemimpin untuk tetap serius dengan masukan tapi santai terhadap kritik dan cercaan. Masyarakat sudah memahami bahwa fitnah dan gosip yang disertai makian dari para haters tidak akan pernah meruntuhkan pemimpin yang punya integritas, keluhuran dan kerja keras. (DR)

Sumber: http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/184-belajar-kepemimpinan-1-menghadapi-haters.html

 

Artikel Kepemimpinan: Facebook Dan Pemimpin

Bersahabat itu sekarang tidak hanya di dunia nyata tapi juga ke dunia maya digital, terutama yang paling ramai adalah facebook. Kadang tak tahu apakah ini orang ini asli fotonya atau sudah diedit, tak jarang ditemukan fotonya lebih indah dari aslinya, hehehe. Pertemanan ini tidak mengenal lagi strata alias kasta. Semua disamakan dipanggil “Anda atau kamu” walaupun usia dan kedudukan di dunia nyata beda. Di fb orang berani menyuarakan pendapat, baik yang serius ataupun sekenanya, dan suka-suka dia. Maka di fb sering ditemukan ada yang berbagi ilmu, yang berlaku bijak yang penuh kata-kata petuah dalam tulisannya, juga banyak menasehati dan menggurui, ada yang mengutip ayat-ayat suci dan memberikan kalimat-kalimat renungan yang sedang dipikirkan. Tak sedikit yang rutin menaruh status remeh-temeh dirinya, bahkan kalau ada isu lagi ramai rajin mengajak berdebat, nyinyir, sinis dan mencela. Semua bebas dilakukan dan sering menggemaskan.

 Foto dan video pun mulai menjadi komunikasi yang memiliki ribuan makna walau tanpa kata. Semua foto diunggah dengan harapan dapat jempol suka (like) dan rasanya ketagihan jika sudah kebanyakan jempol. Maka jika tidak ada jempol, mungkin terpaksa klik tanda jempol sendiri dengan harapan muncul lagi di timeline teratas dari fb teman-teman, sehingga dilirik kembali foto itu. Foto dan video telah menjadi kesembuhan memori yang mulai pikun jika melihat foto kenangan, tapi sekaligus nafsu berbelanja diaduk-aduk jika melihat iklan-iklan bergentayangan.

Namun tetap waspada kawan bahwa di tengah niat baik Mark Zuckerberg si pendiri fb untuk menghubungkan pertemanan di seluruh dunia, selalu ada kejahatan mendompleng. Ia digunakan kaum radikal, si pendusta, si pencoleng uang, dan bahkan predator seks untuk memangsa siapa yang bisa ditelannya. Maka tak boleh malu rasanya kalau kita harus belajar sama yang masih muda tentang bagaimana melindungi akun persahabatan ini. Ada yang kapok dan tinggalkan. Saya pikir itu salah, karena fb sudah bukan waktunya ditakuti tapi dihadapi dan lawan segala kejahatan. Niatan baik menggunakan fb untuk berbagi ilmu dan kebajikan serta kesaksian terus diasah sehingga membawa dunia kepada kehidupan yang lebih baik.

Jangan frustrasi bila Anda dikritik dan dimaki-maki karena status Anda. Bila tak kuat hadapi, blok saja. Sangat simpel. Jika banyak status teman menggangu Anda dan merasa disindir, lewatkan saja. Jangan berprasangka. Tidak elok menduga status tulisan seseorang, karena memang tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri seseorang. Tujuan punya akun fb bukan supaya banyak teman, karena banyak teman itu hanya bonus. Pilih kawan yang Anda kenal atau yang membawa manfaat. Ucapkan selamat jalan buat sahabat Fb (unfriend) untuk yang sudah menganggu dan menyerang privasi. Lebih baik sedikit teman yang berkualitas daripada ribuan tanpa kontribusi apa-apa. Tujuan punya fb agar kaya akan kebaikan, informasi yang luas namun sehat, dan sumber-sumber semua pengetahuan untuk kehidupan yang bermutu. Jadi memanfaatkan fb semaksimalnya adalah pilihan bijak bagi yang ingin membuat dunia dan peradaban lebih baik. Selamat memperbaharui status selalu, mudah-mudahan banyak yang dapat berkatnya! (DR)

Sumber: 

http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/183-facebook-dan-pemimpin.html

 

Kelahiran Yesus Mengubah Dunia

 Tiap tahun umat Kristen menyambut Natal, suatu perayaan menyambut peristiwa kedatangan sang juruselamat Yesus Kristus ke dalam dunia. Tiap konteks masyarakat merayakan Natal dengan cara yang berbeda, namun satu yang sama yaitu inti berita Natal yaitu kelahiranNya membawa keselamatan bagi umat manusia.

 Perayaan Natal tahun ini masih diwarnai dengan beberapa pergumulan manuia. Ada teror di mana-mana, manusia membunuh sesamanya atas nama agama. Peristiwa bom Paris sebagai bentuk kejahatan manusia atas nama ideologi. Bukan hanya teror besar saja, ada juga teror-teror kecil di masyarakat yang tidak kalah menakutkan seperti begal rampok yang mengintip manusia perkotaan. Ada juga bencana alam yang sungguh nyata bahkan setiap manusia sedang dalam ancaman yang serius dengan musibah dari alam. Dimulai dari gunung meletus sampai kebakaran hutan yang menghasilkan asap yang menyakitkan dan mematikan bagi jutaan warga di Sumatera, Kalimantan dan berbagai daerah di Indonesia.  Belum lagi ada himpitan ekonomi kapitalis yang semakin menjadi-jadi yang akhirnya menginjak nasib buruh yang mendapatkan gaji pas-pasan. Semua menjadi serba salah karena sistem ekonomi sudah menjadi kapitalis sehingga harga-harga kebutuhan melambung, sedangkan gaji masih mengikuti gaji bulanan yang tidak dapat mengejar harga-harga barang.  Pada sisi lain manusia begitu rakus dengan mengganyang uang rakyat dan harta yang ada di perut bumi. Korupsi masih belum bisa diberantas, bahkan semakin merajalela dengan munculnya banyak raja-raja kecil yang sungguh jauh lebih dahsyat dari zaman korupsi era diktator orde baru. Semua ini mengancam harkat dan martabat manusia secara mendasar.

 Solusi tidak mudah, karena memang manusia tidak akan sanggup masalahnya sendiri tanpa intervensi. Ketika Tuhan dilihat dari kacamata psikologis dan bentuk kepercayaan primitif belaka, inilah yang kemudian menjadi akar semua permasalahan. Tuhan memang abstrak karena Dia adalah Roh, tetapi jika dunia hanya dilihat dari segi fisik dan yang terlihat maka manusia akan tetap masuk dalam putaran masalah yang tiada henti. Maka perlu ada intervensi ilahi. Itu adalah Kristus datang mengubah dunia.

 Apa saja yang diubah Tuhan? Pertama, Yesus mengubah manusia berdosa sendiri menjadi memiliki relasi yang dipulihkan dengan Tuhan. Ini sebuah misteri rohani yang kemudian mengubahkan seluruh eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesama, peradaban dan alam ciptaan. Itu yang membawa manusia kepada prinsip kasih yang mana kasih Tuhan terwujud menjadi kasih kepada sesama manusia (Yoh 3:16; baca 1 Yohanes)

 Kedua, Yesus mengubah relasi antar manusia. Sebagaimana yang dikatakan di atas, bahwa relasi dengan Tuhan akan mengubahkan hubungan manusia dengan sesamanya, termasuk dalam pemulihan keluarga sebagaimana yang dimaksudkan dalam tema Natal PGI tahun ini tentang “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah”.  Keluarga yang hidup dalam kasih akan menjadi keluarga-keluarga lain yang lebih luas yaitu gereja, masyarakat dan bangsa menjadi hidup dalam damai dan kebahagiaan karena prinsip kasih ini yang dapat menghilangkan tembok kecurigaan bahkan kebencian di antara sesama manusia.

 Ketiga, Yesus mengubah mandat alam semesta (Ibr 1:1-4). Kelahiran Kristus pasti juga mengubahkan konsep kita tentang ciptaan di mana membawa tugas dan tanggung jawab untuk memelihara dan melindungi ciptaan yang adalah sumber makanan, minuman dan kehidupan umat manusia. Rasanya sedih melihat saudara-saudara kita harus menghirup asap beracun selama berbulan-bulan karena eksploitasi hutan yang tiada taranya. Keserakahan dan kerakusan manusia membawa malapetaka pertama bagi alam dan akhirnya kepada kehancuran manusia itu sendiri. Sudah waktunya gereja hadir lebih nyata dalam hal pemeliharaan ciptaan dan bukan hanya slogan belaka.

 Akhirnya, atas nama keluarga besar STT Jaffray kami menyampaikan Selamat Natal dan Tahun Baru 2016. Tuhan Yesus kiranya menyertai kita semua.

 

Pdt. Daniel Ronda

Ketua STT Jaffray

 

 

 

Page 3 of 10

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
  

Alamat Sekolah
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan, Indonesia
Email: sttjaffray@yahoo.com
Telp. 0411-3624129
Fax. 0411-3629549

Kontak Pascasarjana:
Email: pascasarjana.sttj@ymail.com
Telp/Fax. 0411-3619757

Copyright © 2012 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar. All Rights Reserved