# # # # # # # # # # # # #

New Books Release

sistem_teologi Cover_Buku_Peniel belajar
Rp 60.000,- Rp 40.000,- Rp 65.000,-
gereja Toraja Cover_Pengantar_Konseling
Rp 55.000,- Rp 40.000,- Rp 45.000,-

dr_daniel_ronda

Andrew_Brake_Books PW1
Rp 40.000,- Rp 100.000,-

Rp 40.000,-
Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

Dari Meja Ketua

STT Jaffray Tetap Fokus Menggenapi Amanat Agung

Tidak terasa kita telah berada di penghujung tahun 2016.  Ada berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan bagi kita alami dan oleh anugerah-Nya, Ia telah menuntun kita mengakhiri tahun 2016 dengan penuh kemenangan.  Memasuki semester ganjil 2016 telah terjadi pergantian kepemimpinan di STT Jaffray Makassar.  Namun, pergantian kepemimpinan di STT Jaffray tidak mengubah fokus STT Jaffray dalam menggenapi  Amanat Agung.  Penginjilan, pemuridan, penjemaatan, dan pengajaran menjadi bagian dari seluruh aktivitas akademik STT Jaffray.

Mengakhiri tahun ini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan penting tentang pelaksanaan Amanat Agung, “Adakah perbedaan nilai antara Penabur dan Penuai dalam penginjilan?” 

Kadang orang menilai bahwa mereka, para hamba Tuhan yang melayani dalam ladang penginjilan adalah mereka yang menuai banyak petobat baru adalah mereka yang berhasil daripada mereka yang hanya menabur Kabar Baik, tetapi tidak menghasilkan petobat baru. 

Dalam Yohanes 4:36-37, Yesus berkata: “Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.  Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.” 

Menurut Yesus, ada penuai dan penabur, bahkan penuai telah menerima upahnya dan mengumpulkan buah hidup yang kekal, tetapi bukan berarti hanya penuai yang menikmati sukacita.  Kedua-duanya menjadi perhatian Yesus, “sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.”  Dengan demikian, orang yang menabur dan orang yang menuai memiliki nilai yang sama di hadapan Yesus.

Demikian juga menuai jiwa-jiwa, ada proses dan melibatkan orang-orang yang berbeda tanggung jawab, yaitu menabur dan menuai.  Kita harus mengambil bagian dalam salah satu bagian: menabur atau menuai.  Kita tidak bisa menuai kalau kita tidak pernah menabur.  Jika kita melaksanakan misi hari ini, tetapi kita tidak menuai, itu berarti kita sedang menabur.  Tetapi jika kita menuai hari ini, mungkin ada orang lain yang telah menabur atau kita pernah menabur.  Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan Yesus, “Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai” (ay. 37).  Jika seorang menuai, ia tidak harus mengatakan bahwa ia lebih baik.  Mengapa?  Karena jika ia dapat menuai hari ini karena ada orang yang telah menabur terlebih dahulu

                Kiranya natal pada tahun ini, segenap sivitas akademik STT Jaffray, seluruh stakeholders, dan para sahabat Jaffray tetap memiliki komitmen untuk mengambil bagian dalam penggenapan amanat agung, yaitu menabur atau menuai jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kerajaan Sorga.

                Atas nama STT Jaffray, saya mengucapkan terima kasih banyak atas segala dukungan yang diberikan kepada STT Jaffray selama tahun 2016.  Doa kami, Tuhan Yesus Kristus selalu menyertai dan memberkati bapak, ibu, saudara sekalian dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan masing-masing.

                Pada kesempatan ini, saya juga mengucapkan Selamat Hari Natal 25 Desember 2016 kiranya damai natal yang telah kita miliki dapat kita nyatakan kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.  Dan selamat menyongsong tahun baru 1 Januari 2017.  Tuhan pasti tetap menyertai dan memberkati kita di tahun 2017 untuk melakukan hal-hal besar bagi kemuliaan-Nya (Dr. Peniel C. D. Maiaweng).

Kartu_Natal_2016

 

Visi dan Misi Institusi STT Jaffray Periode 2016-2021

VISI

 

STT Jaffray bangkit menjadi sekolah tinggi teologi GKII berkualitas yang memiliki nilai kontribusi bagi gereja dan masyarakat dengan berorientasi pada penggenapan amanat agung.

 

MISI

 

  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas untuk program sarjana, magister, dan doktor, yang terfokus pada pengembangan keilmuan (Teologi/Penggembalaan, PAK, PAR, MISI, Konseling, Musik, Biblika), karakter, dan kompetensi/skill yang bersumber pada firman Allah.
  2. Menyelenggarakan pengabdian masyarakat berkualitas yang memiliki nilai kontribusi bagi gereja dan masyarakat secara holistik dalam bidang teologi/penggembalaan, PAK, PAR, Misi, Konseling, Musik, dan Biblika melalui penginjilan, pemuridan, penjemaatan, dan pengajaran sebagai perwujudan penggenapan amanat agung.
  3. Menyelenggarakan penelitian yang berkualitas terhadap isu-isu global dan lokal dalam bidang Teologi/Penggembalaan, PAK, PAR, Misi, Konseling, Musik, Biblika, yang hasilnya menjadi kontribusi peningkatan kualitas hidup gereja dan masyarakat.
 

Nasihat bagi Seorang Pemimpin untuk Menjadi Pemimpin-Pelayan

Memegang jabatan itu suatu mandat yang diberikan dari Tuhan dan kepercayaan dari organisasi. Jabatan itu berisi kekuasaan atau “power” yang menyertainya sehingga dia punya kuasa untuk mengangkat atau memberhentikan, mempromosikan atau membiarkan pergi, kuasa atas pemakaian anggaran atau keuangan, kekuatan untuk mengatur semua kebijakan dan arah langkah organisasi. Di tangan pemimpin yang baik, maka organisasi akan bertambah maju, tapi tidak demikian jika dipegang oleh pemimpin yang tidak mengerti arti kepemimpinan yang sebenarnya. Tak sedikit lalu menjadi arogan, menyingkirkan yang tidak disukai, nepotisme kekeluargaan dan pertemanan dalam mengangkat seseorang, arah organisasi tidak jelas, keuangan diatur sesukanya untuk kepentingan pribadi. Gaya ini disebut mentang-mentang yaitu karena merasa punya kuasa maka dipakai seenak perutnya.

Mengapa itu terjadi? Memang karena si pemimpin itu tidak pernah mau memahami hakikat inti dari arti memimpin. Yesus sendiri sudah jelas sekali menyatakan bahwa memimpin itu artinya melayani dan bukan dilayani. Memimpin artinya memberi yang terbaik bagi yang dipimpin untuk kemuliaan Tuhan. Memimpin berarti menjadi pelayan. Sudah tidak bisa dibengkokkan lagi arti memimpin. Pemimpin bukan penguasa otoriter, karena pemimpin dinaikkan oleh suara peserta rapat bukan untuk menjadi Hitler, tapi menjadi serupa dalam kepemimpinan Yesus. Hanya model kepemimpinan ini yang bisa mengangkat sang pemimpin.

Artinya memimpin dengan melayani adalah pemimpin yang banyak mendengarkan, berdialog sekalipun dengan orang yang berbeda pendapat bahkan musuh sekalipun. Dia rela duduk di warung kopi untuk bercakap secara informal untuk mendengarkan sang bawahan yang menangis kepedihan dengan segala keluh dan kesahnya. Dia peduli penderitaan dan bersama-sama merasakan kesusahan dan bertindak dengan tindakan nyata. Dalam memutuskan sesuatu dia tidak mau sembunyi di balik kata “Menurut Peraturan” karena sejatinya peraturan itu hanya alat mencapai tujuan organisasi. Jangan peraturan itu diperalat untuk kepentingan sendiri atau menghancurkan orang. Mungkin masalahnya adalah pemimpin tidak siap mendengarkan. Lagi-lagi, jangan mentang-mentang berkuasa, maka suara di bawahan dianggap angin lalu. Jabatan itu hanya sementara saja!

Nasihat terbaik adalah jangan pernah memaksakan pendapat sendiri. Dalam organisasi yang sifatnya kolegial (atau istilah gereja presbiterial) maka si pemimpin adalah orang yang menghimpunkan dan menyatukan berbagai pendapat teman-teman dalam kepengurusan secara bersama-sama. Ia perlu bermusyawarah untuk mencapai sebuah keputusan. Diakui ini agak lama dan berat, tapi bila terus menerus berjumpa dalam dialog yang sehat dan penuh kasih tanpa prasangka maka akan ditemukan sebuah komitmen untuk saling memahami, saling menerima dan saling mengasihi. Jangan juga merasa bahwa jika pendapat saya ditolak, lalu wibawa saya hilang. Tidak begitu arti kepemimpinan. Pemimpin itu tidak tahu segalanya, maka dia membutuhkan masukan dari banyak orang soal keputusan yang harus diambilnya. Alangkah eloknya sebuah keputusan itu lahir dari sebuah kebersamaan.

Kadang pemimpin harus malu karena sumber persembahan organisasi datang dari bawah tapi gaya kepemimpinan bersifat otoriter dan tidak mau mendengarkan. Presiden sebuah negara saja dikritik jika dia tidak bisa berdialog dan berkomunikasi serta melayani rakyatnya yang notabene bayar pajak, mengapa pemimpin rohani merasa berbeda dalam prinsip melayani? Seolah-olah pemimpin mau berkomunikasi “uangmu tidak bisa atur saya”. Memang harus diingat bahwa pemimpin tidak boleh takluk dengan si pemberi persembahan. Namun tidak elok bersikap ekstrim dengan merasa bahwa jabatan pemimpin itu segalanya. Mendengarkan tidak sama dengan diatur orang. Itu adalah dinamika di mana pemimpin harus berani mengungkapkan pendapatnya tanpa merasa ada tekanan tapi pada saat yang sama penuh kasih melayani orang di bawah kekuasaan si pemimpin. Jadi mendengarkan dan menerima pandangan adalah sebuah dinamika untuk menemukan titik penyelesaian dan bukan bermaksud untuk diatur orang. Jangan merasa rendah diri, apalagi tidak mau bicara di depan orang tapi di belakang baru bicara. Pemimpin harus percaya diri bahwa dia adalah pemimpin yang ditetapkan Tuhan. Hanya kemudian tetap diingat “Jangan mentang-mentang”. Itu nasihat mentor saya almarhum Pendeta Peter Anggu. (DR)

Sumber: Daniel Ronda, “Jangan Mentang-mentang,” diakses 28 September 2016, http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/187-jangan-mentang-mentang.html

 

Sambutan Ketua STT Jaffray 2016

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus karena kebaikan dan pemeliharaan-Nya sepanjang tahun ini membawa kita semua pada awal Juni 2016. Menjalani bulan demi bulan dalam anugerah-Nya dan merasakan sukacita dan kedamaian dari-Nya. Kita baru saja melewati Konas GKII di Manado pada bulan April dan memasuki awal yang baru dalam kepemimpinan yang baru. Saya terpilih menjadi Ketua Umum GKII pada Konas ke-8 GKII yang berlangsung di Manado, 11-15 April 2016. Puji Tuhan bahwa pada bulan Oktober akan terjadi pergantian kepemimpinan di STT Jaffray, di mana pada Rapimnas GKII tanggal 4-7 Oktober 2016 akan ditetapkan Ketua yang baru. Kita semua berdoa Tuhan memberikan yang terbaik bagi sivitas akademika STT Jaffray.

 Kita juga patut bersyukur bahwa tahun ini wisudawan terbanyak akan diwisuda di mana sebelumnya pada tahun lalu jumlah penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2015/2016 mencapai 120 orang khusus untuk S1. Kita juga mengetahui bahwa semua prodi telah terakreditasi dan khusus prodi S3 yang terakhir di mana pada bulan April lalu telah terakreditasi dengan nilai B. Pencapaian ini akan terus ditingkatkan dengan peningkatan SDM serta sarana prasarana. Komitmen untuk terus mempertahankan kualitas pembelajaran maka kami pun bersyukur kepada Tuhan karena pada tahun ini kita kedatangan Pdt. Leo Sumule yang baru-baru ini menyelesaikan studinya dengan meraih Ph.D. di Biola University dan akan mengajar semester depan. Bersama istrinya ibu Stephanie Chang yang telah menyelesaikan studi S2 dan beliau juga akan mengajar.

Kami juga melakukan renovasi rumah dosen di bagian belakang di mana sebelumnya sudah merenovasi rumah dosen bagian depan dekat Guest House. Mohon dukungan doa supaya semuanya Tuhan penuhi tepat pada waktu-Nya.  Selain itu pada bulan Juni ini ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan. Ada pengutusan mahasiswa PKL/PPL dan pengutusan tim misi STT Jaffray ke berbagai daerah dan kegiatan misi pemuda yang dilaksanakan oleh LMPM yaitu Youth For Missions  pada tanggal 27-29 Juni 2016.

Akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mendedikasikan hidupnya untuk institusi kita STT Jaffray dan terus mendukung pengembangan STT Jaffray menjadi lebih baik di masa yang akan datang dengan tetap pada tujuan mulia untuk kemuliaan-Nya dan kehendak-Nya. DR

 

Page 2 of 10

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
  

Alamat Sekolah

Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray Makassar
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan, Indonesia
Email: sttjaffray@yahoo.com
Telp. 0411-3624129
Fax. 0411-3629549

Kontak Pascasarjana:
Email: pascasarjana.sttj@ymail.com
Telp/Fax. 0411-3619757

Copyright © 2012 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar. All Rights Reserved