# # # # # # # # # # # # #

New Books Release

sistem_teologi Cover_Buku_Peniel belajar
Rp 60.000,- Rp 40.000,- Rp 65.000,-
gereja Toraja Cover_Pengantar_Konseling
Rp 55.000,- Rp 40.000,- Rp 45.000,-

dr_daniel_ronda

Andrew_Brake_Books PW1
Rp 40.000,- Rp 100.000,-

Rp 40.000,-
Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

Dari Meja Ketua

Sambutan Ketua STT Jaffray Makassar pada Dies Natalis Ke-81

Are You Called?



         Kita bersyukur karena tahun 2013 ini ada 82 wisudawan yang ditamatkan. Mereka terdiri dari 45 orang pada program S1 dan 37 orang pada program S2. Doa kami mereka semua sukses dalam tugas pengabdian. Pertanyaan renungan yang mau saya sampaikan pada wisuda tahun ini adalah apakah Tuhan benar-benar telah memanggil Anda ke dalam pelayanan?

        Tentu masih ada yang bertanya apa itu panggilan Tuhan? Semua orang percaya dipanggil untuk melayani karena kasih dan keselamatan yang diberikan kepada Kristus. Tetapi ada yang terpanggil khusus untuk melayani secara penuh waktu di gereja dan pelayanan lainnya.

       Memang tidak semua penamat di sekolah teologi memahami panggilan ini, karena ada yang mulai menganggap tugas pelayanan sebagai karir dan profesi. Tak heran banyak penamat di sekolah teologi menunggu kesempatan mendapatkan karir yang baik seperti menunggu kesempatan menjadi dosen, pendeta di gereja yang sudah mapan dan berbagai posisi penting yang diincar. Semua terlihat sebagai sebuah karir, sungguh ironi!

       Berbeda dengan karir, bagaimana kita tahu Tuhan benar-benar telah memanggil kita secara penuh waktu bagi pelayanan gereja dan yang lainnya? Yang pertama karya Roh Kudus dalam hidup kita di mana kita mendengar panggilan-Nya lewat iman kita. Marthen Luther (Bapak Reformasi Gereja) menggambarkan panggilan itu sebagai suara-Nya yang terdengar oleh iman (God’s voice heard by faith). Dari sini kemudian kita akan melihat jalan-jalan yang memimpin kita kepada pelayanan, ada visi, misi dan tujuan Tuhan yang tertanam di hati kita, dan tumbuhnya komitmen dan cinta kepada pelayanan.

        Lebih dari itu, kita akan merasakan terus semakin rindu dan cinta tugas pelayanan yang Tuhan berikan. Rasanya tugas itu menyatu dalam hidup kita dan kita merasakan sukacita besar dan adanya rasa urgensi yaitu hati yang berkobar-kobar untuk melaksanakan tugas panggilan itu. Mengutip pernyataan Charles Spurgeon yang mengidentifikasikan panggilan pelayanan sebagai “an intense, all-absorbing desire for the work” yaitu suatu kerinduan yang dalam untuk melakukan tugas pelayanan.

        Hal yang tidak kalah pentingnya untuk mengetahui panggilan Tuhan adalah jemaat. Apakah jemaat mengkonfirmasi karunia dan panggilan yang Tuhan berikan? Di sini kita meminta jemaat mengevaluasi pelayanan kita dan memberikan afirmasi bahwa memang kita tepat dalam tugas itu. Misalnya, seorang gembala akan menanyakan kepada rekan majelis dan panatua jemaat apakah tugas penggembalaan memang tepat telah dibebankan kepadanya. Ini penting karena jemaat adalah bentukan Tuhan dan biarkan jemaat memberikan afirmasi dan ikut merayakan panggilan Tuhan buat kita. Jadi mereka yang terpanggil melayani jadi gembala akan memiliki kerinduan yang dalam melayani dan sekaligus mendapatkan karunia menjadi gembala. Hal ini berlaku untuk semua jenis panggilan dari Tuhan.

        Untuk para penamat, apakah telah ada panggilan Tuhan untuk Anda entah menjadi gembala, penginjil, guru, pengkotbah dan yang lainnya? Apakah ada api yang menyala-nyala dengan rasa urgensi yang mendalam untuk memproklamirkan Injil Tuhan dan kasih kepada umat Tuhan? Apakah teman Anda, dosen dan gembala Anda telah memberikan konfirmasi tentang apa yang menjadi panggilan Anda?

        Jika belum mendapat panggilan Tuhan, jangan mulai pelayanan! Allah masih menunggu Anda memenuhi panggilan-Nya! Tuhan tidak mau melihat para penamat memiliki konsep karir dalam tugas pengabdian di gereja-Nya. Jangan hancurkan gereja Tuhan dengan penamat yang hanya mencari hidup dan karir dalam pelayanan. Semoga itu tidak terjadi pada alumni STT Jaffray. Ingat moto kampus: “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Tim 2:15). Selamat memenuhi panggilanNya!

 

 

 

Berita Duka

Ketua STT Jaffray Makassar, Pdt. Dr. Daniel Ronda dan Keluarga Besar Civitas Akademika STT Jaffray Makassar menyatakan turut berduka cita atas kembalinya ke Rumah Bapa, Mantan Rektor STT Jaffray Makassar selama empat Periode (1980-1984, 1986-2001), Dosen Kehormatan, hamba Tuhan yang kekasih, Pdt. Dr. Peter Anggu pada hari Sabtu, tanggal 6 Juli 2013, jam 6 sore di Rumah Sakit Stella Maris, Makassar. Beliau dimakamkan pada hari Selasa, tanggal 8 Juli 2013 di Pemakaman Panaikang (berdekatan dengan makam Rev.Dr. R. A. Jaffray).

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan Kristus kepada ibu Anggu dan seluruh keluarga besar.

 

Budaya Anugerah (Culture of Grace)

BUDAYA ANUGERAH

(CULTURE OF GRACE)

Saya rutin mendengar siaran materi pelajaran dari seorang teolog ternama R.C. Sproul melalui internet (ada di http://www.ligonier.org). Salah satu yang sungguh mengesankan saya beberapa waktu lalu adalah pemaparan biografi singkat Bapa gereja Santo Agustinus. Hal yang menarik adalah ia mengembangkan teologi anugerah secara luar biasa akibat dari masa lalunya yang sangat kelam. Ia seorang yang penuh dosa dan akhirnya berbalik mengikuti Tuhan. Dan itu menjadi perjuangannya seumur hidup, sehingga dalam pengakuannya ia merasakan bagaimana ia yang berdosa menyaksikan anugerah Allah yang mengampuninya dan membuat dia semakin bergantung kepada Tuhan.

Anugerah inilah yang membuat orang percaya patut bersyukur karena dosa telah dihapuskan oleh Allah di dalam pengorbanan Kristus. Dan dalam perjalanan hidup yang penuh perjuangan dan godaan, anugerah Allah pun melingkupi kita dengan kasih dan pengampunan. Itu sebabnya gereja lalu memfasilitasi itu dalam liturgi gereja, di mana manusia perlu datang mengakui dosa dan meminta anugerah pengampunan serta petunjuk hidup baru senantiasa. Perjuangan ini adalah perjuangan seumur hidup. Memang ada yang sinis, kalau begitu lebih baik berbuat dosa, toh diampuni! Orang percaya yang memandang anugerah seperti itu akan membayar mahal akibat dosa yang ditimbulkannya. Paulus selalu mengingatkan agar jangan memandang remeh anugerah Allah (Roma 6:1-2).

Bila anugerah pengampunan Tuhan begitu luar biasa, apakah ada budaya anugerah dalam komunitas orang percaya? Atau lebih jauh lagi bila seorang pemimpin gereja jatuh ke dalam dosa, apakah ada kesempatan untuk memperbaiki dan mendapatkan pengampunan? Sayangnya budaya anugerah dalam komunitas orang percaya belum nampak. Akhirnya yang muncul adalah budaya kemunafikan. Misalnya, ketika gereja mengisyaratkan kekudusan sebelum pernikahan sebagai syarat menikah dalam gedung gereja maka tidak sedikit pemuda yang sudah terlanjur jatuh ke dalam dosa seksual dan bahkan ada yang hamil akan berusaha menutupi kesalahan ini karena ingin menikah dalam gedung gereja. Budaya malu lebih banyak dikedepankan daripada budaya mengaku dan mendapatkan pengampunan. Bahkan ketika pemimpin berbuat salah, terpaksa harus menutupi dan berusaha mengelak karena tiadanya peluang terlihat apakah ada jalan keluar untuk pergumulannya.

Gereja juga seringkali salah dalam teologi praktisnya, karena bila teologi anugerah tidak dibarengi dengan budaya anugerah dalam gereja, maka gereja sedang berteologi yang tidak lengkap. Budaya anugerah bukan sekadar mengaku dosa di hadapan Tuhan, tapi meliputi menerima orang berdosa di tengah mereka apa adanya     tanpa menghakimi. Terlebih lagi budaya anugerah memberikan orang berdosa kesempatan untuk kembali dan maju bersama tanpa beban. Ketika Tuhan sudah mengampuni dosa, maka anugerah itu harus dirayakan bersama dalam komunitas.

Bagaimana menempatkan disiplin? Dosa itu sendiri sudah memiliki karakteritik penghukuman di dalamnya. Begitu seseorang berdosa maka muncul rasa malu, salah, sesal dan berbagai akibat fatal lainnya. Disiplin lalu bukan dibuat untuk membuat orang jera atau membuat orang lain tidak akan berdosa. Itu bukan tujuan disiplin gereja. Disiplin berbicara tentang penegasan akibat dosa dan adanya anugerah Allah yang akan memulihkan. Jadi disiplin berbicara tentang proses pemulihan bersama Allah dan waktu berdiam diri bersama Tuhan. Disiplin juga berbicara adanya mentoring dan percakapan-percakapan yang membawa kepada pemulihan harga diri, rasa malu dan sesal dan menjadi pasukan yang berdiri lebih kuat dalam menghadapi siasat si jahat. Jangan sampai disiplin justru adalah alat di jahat untuk melemahkan umat-Nya.

Budaya anugerah harus muncul menjadi atmosfer jemaat-jemaat dan organisasi gereja. Tidak ada lagi orang yang berdosa bahwa ketika dia berdosa maka semuanya berakhir. Pemimpin gereja yang telah jatuh ke dalam dosa tidak lagi berpikir bahwa inilah akhir dari pelayanannya. Ketika seorang bangkit, gereja harus menopangnya. Di sini gereja hadir membuktikan bahwa memang Allah adalah Allah yang penuh anugerah. Gereja siap memberikan kesempatan kedua sebesar atau sefatal apapun dosanya. Gereja senantiasa mewartakan bahwa tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:35, 39).

 

Sambutan Ketua Memperingati Paskah 2013

Sambutan Ketua Memperingati Paskah 2013


Teknologi dan Paskah

        Sudah tidak dapat disangkal bahwa kita hidup dalam dunia TI (Teknologi dan Informasi). Sampai-sampai iman pun sekarang penyebarannya melalui TI yaitu dari internet sampai media sosial. Namun sayang sekali penyebaran itu hanya kalimat yang pendek-pendek saja dan tidak menggambarkan konsep utuh keimanan. Bahkan yang menyedihkan, ada informasi pendek lalu disebarkan ke mana-mana, apalagi penggunaan media bbm (blackberry messenger) yang mudahnya meng-“copy-paste” dan melakukan “broacast” dengan cepat, kurang dari satu menit. Sebagai contoh baru-baru ini saya banyak menerima bahan via bbm bahwa “Easter” itu tidak tepat digunakan karena berasal dari dunia dewa dan sekuler (pagan). Akhirnya, banyak orang menjadi bingung karena penjelasannya pendek sekali, padahal di satu sisi sudah ada tradisi di kalangan orang Inggris (Anglo Saxon) mengambil kata itu dengan menggantinya dengan peristiwa pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus. Jadi itu sudah lumrah terjadi, peminjaman kata dan maknanya diganti dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan. Namun, pemaparan pendek itu telah membingungkan iman kita. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Lebih menyedihkan lagi bahwa media sosial dipakai untuk menjatuhkan suatu pelayanan atau pemimpin gereja. Sebut saj ada pendeta korupsi, selingkuh dan seterusnya. Seandainya pun berita itu benar, apakah hak kita untuk menyebarkannya sebelum kita menelitinya lebih jauh? Ingat, berita di internet dan media sosial penuh dengan sampah, sehingga kita harus bisa memilah dengan melakukan investigasi yang mendalam, apalagi menyangkut nama baik seseorang. Jangan merasa bahwa kita memegang bb (blackberry) atau smartphone lainnya, kita berhak menyebarkannya tanpa penyelidikan sendiri. Alasannya, yang mengirimkan ke kita adalah orang yang dipercaya atau atasan kita. Ingat orang Indonesia baru melek internet, sehingga sekalipun itu level pemimpin belum tentu mengetahui seluk beluk rimba raya dunia TI.

Para pemimpin gereja harus mencerdaskan jemaatnya tentang bagaimana mengolah informasi yang masuk dan bagaimana menggunakan smartphone dengan cara-cara etika Kristen. Jangan sampai kita menjadi tukang fitnah modern dan melakukan gosip atas nama teknologi. Biasanya, saya tersenyum miris kalau ada informasi via bbm tentang kesehatan yang belum diverifikasi, ada produk obat yang dilarang atas nama Badan POM??, ada penyebaran HIV AIDS lewat makan buah yang dipotong penjual buah yang teriris tangannya, ada cacing masuk lewat sayur kangkung! Belum lagi ada doa yang harus dilanjutkan kepada 20 orang, dengan ancaman kalau tidak dilanjutkan Anda akan sial atau kena musibah. Saya selalu bertanya, mengapa logika kita tidak dipakai sebelum melanjutkan sebuah berita? Apakah berita ini masuk akal? Lalu apakah sudah ada konfirmasi tentang kebenarannya? Bagaimana caranya kita mengecek kebenaran sebuah berita? Untuk yang terakhir, jawabannya adalah kembali gunakan internet dan melihat pembandingnya di sana atau bertanyalah kepada ahlinya. Misalnya kalau informasi kedokteran, tanya kepada dokter dan seterusnya.

        Tentu pasti ada yang baik dari internet dan media sosial. Kita harus menggunakannya untuk memuliakan Tuhan dan penyebaran Injil-Nya. Saya sendiri banyak diberkati oleh TI, namun sudah waktunya kita memiliki filter sendiri (self-filter) dalam menyerap informasi dan semakin cerdas. Jangan mudah mem”forward” suatu berita tanpa mengecek kebenarannya dan Anda bertanggung jawab secara moral dalam menyebarkan ifnormasi, walaupun bukan bersumber dari kita.

        Akhirnya, Selamat Paskah untuk kita semua. Marilah kita merayakan kemenangan Kristus ini dengan menyaksikan kasih-Nya kepada dunia sampai kedatangan-Nya yang kedua kali dan gunakan teknologi dan informasi untuk kejayaan nama-Nya.

 

Page 8 of 10

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
  

Alamat Sekolah
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan, Indonesia
Email: sttjaffray@yahoo.com
Telp. 0411-3624129
Fax. 0411-3629549

Kontak Pascasarjana:
Email: pascasarjana.sttj@ymail.com
Telp/Fax. 0411-3619757

Copyright © 2012 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar. All Rights Reserved