# # # # # # # # # # # # #

New Books Release

sistem_teologi Cover_Buku_Peniel belajar
Rp 60.000,- Rp 40.000,- Rp 65.000,-
gereja Toraja Cover_Pengantar_Konseling
Rp 55.000,- Rp 40.000,- Rp 45.000,-

dr_daniel_ronda

Andrew_Brake_Books PW1
Rp 40.000,- Rp 100.000,-

Rp 40.000,-
Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

Dari Meja Ketua

Budaya Menulis Mahasiswa

Budaya Menulis Mahasiswa

Ada kebijakan terbaru dari pemerintah, bahwa syarat menyelesaikan studi bagi mahasiswa baik S1 sampai S3 harus memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal berdasarkan Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 (lihat sumber bacaan di bawah ini). Ini menjadi tantangan baru bagi mahasiswa teeologi untuk terpacu mengembangkan budaya menulis. Mahasiswa diharapkan bukan hanya terampil berkhotbah dan melayani jemaat dengan baik, tapi juga mampu mengekspresikan pokok pikiran dan temuan pelayanan lewat tulisan baik berupa esai, renungan ataupun hasil penelitian.

Budaya menulis tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Ia lahir juga dari budaya membaca. Tanpa membaca sulit mengharapkan seseorang bisa menulis dengan baik. Membaca adalah sebuah keharusan bagi mahasiswa. Bacaan diharapkan seluas-luasnya sehingga mampu mengintegrasikan kebenaran firman Tuhan dalam kehidupan masa kini.

Tantangan lain dalam menulis karya ilmiah adalah bukan hanya mengandalkan buku-buku cetak, tapi juga sudah wajib menggunakan jurnal. Istilah seorang penceramah, jika mau menulis jurnal maka hendaknya “jurnal makan jurnal”. Artinya karya ilmiah yang ditulis dalam jurnal, wajib memiliki referensi dari jurnal karya ilmiah penelitian sebelumnya. Jurnal saat ini tidak hanya dalam bentuk cetakan, tapi juga sudah dalam bentuk online journal system (ojs). Syukur STT Jaffray sudah memiliki ojs ini yang dapat dilihat di ojs.sttjaffray.ac.id. Dengan melakukan pengutipan dari tulisan dari ojs ini maka akan terjadi komunitas pakar yang saling mengutip satu dengan lainnya (citation) yang dapat memperkaya khasanah ilmu. Tentu karya ilmiah sekarang sudah mudah diakses lewat online dan begitu banyak. Diharapkan mahasiswa mulai rajin membaca dan menggunakan media online untuk memperkaya khasanah ilmu yang ditekuninya.

Pada akhirnya, kami sungguh mendorong seluruh mahasiswa S1 sampai S3 untuk memanfaatkan secara maksimal sumber bahan yang tersedia semakin mudah di depan mata. Tapi semuanya memiliki prinsip dasar yang sama, menulis harus dimulai dari membaca dan kerja keras. Dengan demikian akan dihasilkan mahasiswa-mahasiswa unggulan yang bukan hanya jago dalam khotbah dan layanan pastoral, tapi juga mampu mengekspresikannya dalam tulisan.

Sumber:

Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012

Wajib Publikasi Ilmiah S1-S3

Jurnal Jaffray

Jurnal Internasional

 

Sambutan Natal 2014

BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA

Kita kembali memasuki bulan Desember, di mana umat Kristiani sibuk merayakan peristiwa agung kedatangan Sang Juruselamat ke dalam dunia. Sebelum momen kesibukan ini bertambah pada puncaknya tanggal 25 Desember, izinkan kami dari keluarga besar STT Jaffray menyampaikan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2015. Kiranya Tuhan Yesus penyelamat kita akan senantiasa melimpahkan yang baik dalam kehidupan kita semua.

Tema Natal tahun ini bertemakan keluarga yaitu “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga.” Tema yang diberikan PGI dan KWI tahun ini sangat tepat karena memang keutuhan dan kebahagiaan keluarga menjadi isu utama yang sangat penting menghadapi perubahan dunia yang sangat dahsyat. Fondasi keluarga mengalami ancaman yang paling besar. Ancaman itu datang dari kemajuan teknologi informasi, di mana kita memasuki dunia digital dan lewat media sosial dan smartphone telah mengubah cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi secara signifikan. Dampaknya adalah dunia semakin asing bagi persekutuan keluarga. Ada jarak yang membuat keluarga kehilangan kehangatan komunikasi keluarga, ada nilai-nilai yang diberikan oleh media sehingga manusia menemukan nilainya sendiri di rimba raya dunia digital ini. Ancaman lain adalah perpecahan dalam keluarga di mana angka perceraian meningkat, penyimpangan-penyimpangan dalam keluarga bertambah secara drastis, orientasi seksual menjadi semakin kabur. Homoseksual kemudian menjadi tren dan memaksa gereja-gereja (baca: gereja di Barat) mengakui adanya pernikahan sejenis dan seterusnya.  Belum lagi kesepian dan kesunyian yang diakibatkan oleh perubahan dunia yang dramatis ini yang menuntut manusia bekerja lebih lama lagi dari biasanya. Manusia menjadi kesepian di tengah keramaian dan tidak sedikit menjadikan narkoba sebagai pelarian, hedonisme materi menjadi dewa atau idola baru, dan kehancuran keluarga sudah kasat mata dan mengancam keluarga-keluarga termasuk keluarga Kristiani.

Pada sisi lain, kemiskinan yang tiada tara yang dialami sebagian saudara-saudara kita di Indonesia membuat sebagian anak-anak menjadi korban perdagangan manusia (contoh kasus di NTT baru-baru ini). Mereka dijual menjadi PRT bahkan menjadi pelacur dengan paksa. Orang tua kehilangan anak mereka dua kali, sudah terpisahkan untuk berjuang hidup dan kali ini terenggut karena diperjualbelikan layaknya binatang.  Tidak sedikit kemiskinan menyebabkan keluarga-keluarga hancur dan kehilangan orang yang dikasihi. Anak-anak jalanan adalah produk brutal dari kemiskinan struktural yang secara sistem dipelihara oleh pemerintah dengan aturan yang tidak berpihak kepada kemiskinan. Perlindungan terhadap kemiskinan masih karikatif yang hanya memberikan sumbangan kompensasi atas kemiskinan dan bersolusi pendek.

Maka tema Natal tentang keluarga ini hendaknya menjadikan gereja sadar bahwa tanggung jawab gereja semakin besar untuk keluarga-keluarga. Ada beberapa renungan yang perlu kita refleksikan: 1) Gereja harus menghadirkan Kristus yang berelasi dengan keluarga. Sudahkah gereja membuat acara yang memastikan keluarga-keluarga memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan? Spiritualitas keluarga penting terus menjadi pilar utama perjuangan 

gereja karena menjadi benteng kokoh bagi keluarga dalam menghadapi arus ancaman yang besar; 2) Gereja wajib menghadirkan program yang menyadarkan hak dan kewajiban keluarga lewat berbagai pelatihan serta membantu mengatasi kemiskinan dalam jemaat. Pola layanan holistik sudah menjadi keharusan dan gereja bukan hanya dijejali program dan acara-acara seremonial; 3) Gereja harus menghadirkan acara-acara yang mempererat persekutuan dalam keluarga dan serius menangani layanan anak-anak, remaja sampai pemuda.

Kiranya tema Natal ini tidak berlalu begitu saja seiring perginya bulan Desember ini dari kehidupan kita. Justru momen keluarga dalam Natal dipakai mempererat keluarga dan juga dilanjutkan dengan tindakan nyata, sehingga layak tahun 2015 dinyatakan tahun keluarga bagi gereja. Sekali lagi selamat merayakan Natal dan selamat memasuki tahun yang baru 2015. Tuhan menyertai kita semua dengan kekayaan kasih-Nya.
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).”

 

Sambutan Ketua STT Jaffray pada Dies Natalis Ke-82 STT Jaffray

PERAN GEREJA DALAM POLITIK

Salam sejahtera bagi kita semua,

Satu sukacita segenap keluarga besar STT Jaffray setiap tahun pada bulan September ini adalah bahwa kami bisa meluluskan mahasiswa untuk siap terjun ke medan pelayanan. Kami sungguh bersyukur lewat perjuangan dalam proses belajar dan pengembangan karakter serta kerohanian para wisudawan dapat menyelesaikannya dengan baik. Untuk itu kami mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan.

Tahun 2014 ini adalah juga tahun politik di mana kita baru saja menyelesaikan pemilu baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Kedua momen besar ini kita telah lalui dengan baik walaupun disertai berbagai intrik dan kompetisi yang ketat. Syukur kita telah memiliki presiden dan wakil presiden yang baru di mana akan resmi dilantik bulan Oktober mendatang.

Tetapi kisah politik ini menyisakan pertanyaan yaitu seberapa jauh keterlibatan hamba Tuhan dalam politik? Dapatkah hamba Tuhan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau yang disebut DPR? Pertanyaan klasik ini diajukan karena banyaknya hamba Tuhan yang terlibat langsung dalam politik baik menjadi caleg atau terang-terangan menggunakan kedudukannya mendukung capres tertentu dalam pilpres yang lalu. Ini yang menimbulkan pro dan kontra dalam jemaat tentang keterlibatan pemimpin rohani dalam perpolitikan yang masih dikonotasikan kotor dan hitam. Pada orasi wisuda hari ini, kita akan mendapatkan pemaparan tentang Peran Gereja dalam Politik yang akan disampaikan oleh Pdt. Dr. Zakaria Ngelow. Beliau adalah seorang akademisi dan sekaligus peneliti yang banyak menekuni sejarah gereja dan perjumpaan dengan masalah politik yang ada di Indonesia. Kiranya dengan orasi ini dapat mencerahkan kita semua tentang tanggung jawab pemimpin rohani dalam politik di Indonesia.

Pada kesempatan ini, sebagai pimpinan saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh civitas akademika yang telah berkerja keras sepanjang tahun sehingga kita dapat menghasilkan kembali lulusan pada tahun ini. Ucapan terima kasih juga diberikan kepada pihak yayasan yang telah berjuang dengan sangat luar biasa bagi pengembangan kampus STT Jaffray. Tak lupa tentunya kepada orang tua dan wali yang memercayakan pendidikan anaknya kepada institusi kami. Kiranya semua alumni dapat dipakai Tuhan dengan luar biasa di medan pelayanan yang sudah menanti.

Akhirnya, lewat zaman yang sudah terkoneksi ini (interconnected) kita terus menjalin komunikasi satu dengan yang lain sehingga lewat jaringan kita bisa saling memberikan informasi dan membantu satu kepada yang lain. Kami berupaya dengan sepenuh hati memberikan informasi terbaru lewat media sosial dan situs STT Jaffray (www.sttjaffray.ac.id). Kiranya alumni dapat memanfaatkannya dengan baik dan makin dapat mengembangkan pelayanan yang lebih baik ke depan.

Selamat melayani dan maju terus dalam Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Doc2-001

 

Membimbing Karier Seorang Hamba Tuhan

       Membimbing Karier Seorang Hamba Tuhan

    Ketika saya mengisi Borang Akreditasi sebagai persiapan Akreditasi Institusi, maka ada pertanyaan bagaimana sekolah atau universitas menyiapkan karier mahasiswa setelah lulus. Adakah suatu layanan yang diberikan sekolah untuk karier mereka setelah tamat? Pertanyaan ini membuat saya bertanya kembali bagaimana sebenarnya karier seorang hamba Tuhan itu? Bagaimana menggabungkan panggilan Tuhan dan masa depan seorang hamba Tuhan? Saat ini saya mencoba memberikan beberapa pandangan untuk "karier" seorang hamba Tuhan:
    Pertama, seorang mahasiswa teologi harus jelas panggilan Tuhan pada dirinya ke mana dan pelayanan apa yang Tuhan kehendaki pada dirinya. Bisa jadi dia terpanggil menjadi gembala, guru, musisi gereja, penginjil, bekerja di lembaga dan yang lainnya. Semua harus ada panggilan di hati yaitu kerinduan yang dalam untuk melakukan tugas itu dan didukung oleh karunia yang Tuhan beri serta afirmasi dari komunitas orang percaya dan pemimpin rohani di sekitarnya.
    Kedua, uang dan fasilitas tidak boleh menjadi alasan untuk menerima suatau pelayanan. Walaupun uang diperlukan dalam kehidupan, maka uang dan fasilitas ditempatkan sebagai berkat atas pelayanan dan bukan tujuan pelayanan itu sendiri. Prinsip menerima panggilan adalah jiwa yang terhilang dan beban pelayanan yang Tuhan taruh di hati.
   Ketiga, jika hendak bergabung ke suatu organisasi maka wajib bagi mahasiswa untuk memelajari azas pengajaran dan juga mekanisme organisasinya. Penting untuk memerhatikan apakah ada kesempatan bagi mahasiswa nantinya untuk mengembangkan diri terutama dalam pendidikan lanjutan (continuing education) baik formal maupun secara non formal. Seorang hamba Tuhan wajib mengembangkan dirinya baik dalam pengetahuan, karakter, keterampilan atau keahliannya. Seorang hamba Tuhan yang ditempatkan harus punya komitmen menjadi ahli di bidangnya. Maka organisasi yang baik tidak akan membuat orang yang bekerja di dalamnya hanya menjalankan tugas secara rutin tapi menjadi matang dan ahli dalam keahlian serta punya kepribadian yang dewasa dan berwibawa.
         Keempat, pastikan bahwa jika sudah menikah bahwa keluarga dapat mendukung pelayanan yang dilakukan. Organsiasi yang baik memerhatikan keluarga dan anak-anak dari hamba Tuhan itu dalam berbagai bentuk layanan sehingga hamba Tuhan dapat memfokuskan hati dan pikiran dalam pelayanan.
         Kelima, dalam memulai karier perlu seorang lulusan yang baru masuk ke ladang Tuhan memiliki seorang mentor yang akan menuntunnya memahami dunia pelayanan yang sangat kompleks. Hal itu dilakukan dengan cara ada pertemuan rutin dengan mentor lewat doa bersama, "sharing" bersama pelayanan dan mendapatkan arahan tentang berbagai hal.
        Keenam, akhirnya sebelum melangkah memasuki dunia pelayanan banyak berdoa, menggumuli panggilan, bertanya kepada senior atau pemimpin yang dapat memberikan tuntunan ke mana kita melangkah. Selamat melayani. (DR)
 

Page 5 of 10

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
  

Alamat Sekolah
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan, Indonesia
Email: sttjaffray@yahoo.com
Telp. 0411-3624129
Fax. 0411-3629549

Kontak Pascasarjana:
Email: pascasarjana.sttj@ymail.com
Telp/Fax. 0411-3619757

Copyright © 2012 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar. All Rights Reserved