# # # # # # # # # # # # #

New Books Release

sistem_teologi Cover_Buku_Peniel belajar
Rp 60.000,- Rp 40.000,- Rp 65.000,-
gereja Toraja Cover_Pengantar_Konseling
Rp 55.000,- Rp 40.000,- Rp 45.000,-

dr_daniel_ronda

Andrew_Brake_Books PW1
Rp 40.000,- Rp 100.000,-

Rp 40.000,-
Selamat Datang di Website Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar

Dari Meja Ketua

Turun dengan terhormat

Bagi seorang pemimpin dalam memimpin sebuah organisasi, ada waktu untuk diangkat dan ada waktu harus turun karena batasan rentang waktu yang sudah ditentukan. Tidak mudah bagi seseorang untuk lengser setelah sekian lama memimpin, karena memang memimpin ada keistimewaannya baik suka maupun duka. Harus diakui ada banyak fasilitas yang diterima waktu menjadi pemimpin dan itu akan hilang bersamaan dengan turunnya sang pemimpin. Ada rasa hormat yang selalu diterima pemimpin dan itu akan juga hilang bersamaan dengan sang pemimpin menuruni tangga jabatan. Maka tidak sedikit pemimpin berusaha mempertahankan diri, mengangkat keluarganya, atau bahkan menciptakan pemimpin boneka sehingga sang pemimpin masih memegang kontrol kepemimpinan. Padahal jauh lebih elok bila pemimpin turun dengan menyiapkan kepemimpinan selanjutnya. Rasa hormat dan wibawa serta kuasa tetap menjadi bagian dalam kehidupan sang pemimpin sekalipun dia harus turun. Pemimpin sejati tidak pernah takut kehilangan fasilitas dan keistimewaan karena Tuhan itu berdaulat memelihara sekalipun dia harus meninggalkan posisinya.

Bila sudah waktunya, bagaimana seharusnya turun dengan baik dan terhormat? Pertama, siapkan proses pemilihan dan pengganti dengan baik. Jangan ciptakan putra mahkota yang disiapkan untuk menjadi pengganti kecuali itu organisasi itu milik pribadi. Tujuan menyiapkan beberapa pengganti tanpa perlu ada anak emas adalah agar pemimpin tidak merasa berjasa bahwa dia menaikkan orang itu sehingga pemimpin baru akan kikuk mengembangkan organisasi lebih lagi karena harus menunggu persetujuan pemimpin sebelumnya. Siapkan beberapa calon pemimpin secara baik dan biarkan Tuhan menetapkan pemimpin baru lewat doa dan pemilihan yang rohani. Yang terpilih wajib merangkul yang tidak terpilih karena ini bukan kepemimpinan politik.

Kedua, pemimpin yang sudah lengser harus belajar menahan diri dalam segala hal terutama memberikan masukan kepada kepemimpinan yang baru. Apalagi masukan itu dilakukan dengan menggunakan media sosial. Contoh yang nyata yang tidak bisa dicontoh misalnya mantan presiden terdahulu suka menggunakan media sosial dalam memberikan masukan kepada presiden yang baru. Apalagi kemudian dipanas-panasi oleh pendukungnya. Situasi ini menjadi tidak nyaman bagi pemimpin baru dan kepemimpinannya karena merasa didikte. Bukan tidak mungkin ini akan terjadi konflik. Mungkin perlu belajar diam dan menahan diri dalam memberikan nasihat bila tidak diminta. Sekalipun diminta untuk menasihati, harus dilakukan secara pribadi empat mata.

Ketiga, di samping menyiapkan beberapa calon pemimpin baru untuk didokan dan dipilih, maka pemimpin yang akan turun menyiapkan semua pelaporan dan inventaris kepada pemimpin selanjutnya lewat akuntabilitas yang baik dan benar. Gosip akan beterbangan jika pemimpin gagal memberikan pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan dalam organisasi, Juga pemimpin lama diharapkan memperkenalkan jejaring yang dimilikinya sehingga organisasi dapat dikembangkan lebih jauh.

Keempat, jika pemimpin harus tinggal dalam organisasi itu maka pemimpin lama harus siap menjadi bawahan yang baik dan mendukung kepemimpinan yang ada. Memang tidak mudah menjadi bawahan karena sudah terbiasa menjadi atasan yang selalu memberi perintah dan menjadi orang yang paling puncak dalam memberikan keputusan. Jika itu lepas, maka tidak mudah balik menjadi bawahan. Dibutuhkan suatu kebesaran jiwa. Kehebatan seorang pemimpin justru terlihat bagaimana setelah dia turun jabatan dan bagaimana memberikan kesempatan seluasnya untuk penggantinya menjadi pemimpin yang hebat tanpa direcoki! (DR)

 

Mengingat Sang Mentor dalam 25 Tahun Perjalanan Pelayanan

        Bulan Agustus 2015 ini,  saya sudah 25 tahun di pelayanan. Pertama kali saya menjejakkan kaki di Ubud pada bulan Agustus 1990 membantu tugas almarhum Bapak Rodger dan Ibu Lelia Lewis. Dalam perjalanan waktu, ternyata keberadaan saya di Ubud sangat singkat hanya 4 tahun. Lalu bulan Agustus tahun 1994 saya pindah tugas sebagai seorang pengajar di STT Jaffray Makassar sampai sekarang. Kalaupun saya bisa bertahan dalam waktu yang masih baru setengah perjalanan ini, itu dikarenakan ada mentor-mentor yang membentuk saya. Mentor itu saya akan sebutkan satu persatu dengan narasi pendek sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga sehingga sampai di 25 tahun pelayanan:

  1. Dr. Peter Anggu adalah mentor yang luar biasa, ia seorang saleh yang rendah hati, memanggil sang mahasiswa dengan sapaan ringan jika berjumpa, mengajak berdoa ketika masuk ke kantornya bila ada keperluan. Dialah tokoh yang saya kagumi yang kemudian memanggil saya menjadi tenaga pengajar, di mana suratnya masih saya simpan sampai hari ini.
  2. Bapak William Kenneth Kuhns dan Ibu Janet Howard adalah orang tua yang tiada taranya bagi saya dan istri. Pak Kuhns, demikian kami memanggilnya, tidak akan pernah membiarkan pulang dengan hampa jika minta bantuannya. Tentu bukan dalam arti materi, tetapi dalam nasihat dan berbagai hal. Dia adalah figur bapak yang luar biasa dengan kedalaman cara berpikirnya. Sang Ibu, dulu kami sebut Ibu Kuhns adalah figur extrovert yang selalu ceria, senyum dan sukacita dan sangat positif melihat dunia. Dari keduanya kami mendapatkan model arti pelayanan, termasuk belajar tersenyum dengan penuh percaya diri. Merekalah yang mengutus dan mendorong kami untuk berani ambil kuliah S2 di Filipina bahkan mempertaruhkan dana pensiunnya jika sponsor tidak ada.
  3. Pdt. Nyoman Enos adalah figur yang sangat berarti dalam mengartikan apa itu melayani dan apa itu kekudusan. Suara yang keras dan blak-blakan menggambarkan kasih seorang Bapak yang tidak ingin anaknya berkanjang dalam dosa dan melayani adalah anugerah bukan hak yang harus dituntut.
  4. Bapak Rodger dan Ibu Lelia Lewis adalah figur yang sungguh membentuk saya tentang bagaimana melayani dengan setia. Kasihnya kepada jiwa-jiwa, kesederhaan hidupnya, dan pengorbanan uang pensiunnya untuk pelayanan dan beasiswa membuat tapak abadi di hati ini tentang bagaimana sepatutnya mengasihi.
  5. Dr. George Harper adalah dosen terbaik yang pernah saya dapat dalam studi. Dia adalah figur sederhana dalam gaya hidup tetapi sangat kaya dalam berteologi. Dia yang membuat saya mampu melihat teologi sistematika dari sudut pandang sejarah yang menjadikan kita berhikmat melihat keragaman teologi dalam sejarah. Dialah yang meyakinkan saya bahwa makalah-makalah saya sangat cerdas dan dia pula yang meminta saya melanjutkan studi Ph.D dengan beasiswa John Stott. Ia kecewa ketika saya menolaknya namun hubungan tetap baik dan indah karena memang hatinya adalah mencetak teolog bagi orang Asia.
  6. Dr. David Rambo adalah seorang mantan Ketua CMA Amerika yang kemudian menjadi dosen saya di Asbury Theological Seminary. Bersama istrinya, Ruth Rambo, mereka menjadi orang tua selama studi di Amerika. Kisah-kisah pelayanannya dan caranya memberikan semangat dan kepercayaan diri sehingga mampu melihat kepemimpinan dari sudut sang pemimpin yang sebenarnya dan bukan pemimpin yang masih merasa menjadi ekor atau bawahan. Ia percaya bahwa saya bisa menjadi pemimpin dan kepercayaan itu saya masih emban!

Narasi di atas sangat pendek. Ada banyak pengorbanan sang mentor-mentor itu yang tidak saya bisa narasikan di sini. Sungguh mentor-mentor di atas adalah pribadi yang membentuk kepemimpinan saya.

Ada banyak orang lain juga yang menaruh doa, nasehat dan dukungan dalam hidup saya. Mereka tak saya narasikan khusus, namun punya peran yang penting. Mereka adalah Pdt. Wayan Bukti Suplig, yang kepadanya saya menerima panggilan menjadi hamba Tuhan di Retret Pemuda di Ambiarsari Bali tahun 1985. Ada dosen-dosen yang membentuk pelayanan: Pdt. M. Silalahi, Bapak Gordon dan Adina Chapman, Dr. Ruth F. Selan. Juga tak lupa Bapak Mathias Abai, sang mantan Ketua Umum GKII yang mendoakan saya secara khusus dengan Elisabeth di rumah dinasnya Jl. Jambrut 24 Jakarta sebelum kami menikah. Ia adalah teman baik mertua saya Bapak P. A. Dasong yang mantan bendahara di mana waktu-waktu kebersamaan mereka di kantor pusat GKII mereka saling mendoakan termasuk mendokan kami.

Mentoring ternyata berguna sekali membentuk kepemimpinan seseorang. Saya sudah merasakannya. Sudah waktunya di sisa 25 tahun pelayanan berikutnya jika diperkenan Tuhan, saya mau mementor sebanyak mungkin pemimpin muda untuk menjadikan mereka pelayan Tuhan yang luar biasa.

Makassar, 3 Agustus 2015

Dr. Daniel Ronda

 

Mengapa Harus Kuliah (Belajar) Lagi?

Mengapa Harus Kuliah (Belajar) Lagi?

Setiap saya menjumpai alumni, saya mendorong mereka untuk berkuliah lagi baik itu S2 maupun S3? Cuma ada yang jawabannya klasik, “sibuk pak”! Saya yakin jawaban itu benar. Tetapi apakah kesibukan itu membuat kita menjadi lebih efektif? Tidak sedikit justru dengan kesibukan yang tidak ada hentinya membuat kita tambah lama tidak lagi se-efektif dulu, akibat tidak ada waktu untuk belajar lagi. Tentu belajar tidak harus formal, bisa dilakukan dengan mengikuti seminar atau disiplin membaca dan mendengarkan pembelajaran kuliah atau khotbah lewat media sosial atau televisi. Jika demikian mengapa harus kuliah lagi?

1. Supaya kita mengalami penyegaran dan pemulihan kembali setelah bertahun-tahun dalam rutinitas. Lewat belajar kita ditantang merefleksikan kembali apa yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun, sehingga kita

2. Jemaat kita rata-rata sudah mulai S2 dan S3 juga, sehingga pendidikan akan memengaruhi kualitas kita melakukan persuasi komunikasi, terutama komunikasi interpersonal dan sewaktu memimpin organisasi. Wibawa komunikasi meningkat sejajar dengan pendidikan yang dicapai.
3. Sebagai investasi untuk hari tua. Ingat bahwa organisasi tidak akan mengingat jasa-jasa kita sehebat apapun yang kita lakukan. Mungkin kita diberi penghargaan, tetapi hanya itu. Bila sudah waktunya pensiun ya kita harus berhenti. Tetapi lewat pendidikan S2 dan S3 kita masih punya peluang untuk mengajar, memberikan seminar, melatih dan berkhotbah. Pelayanan tidak mengenal pensiun, hanya jabatan struktural yang menerapkan pensiun.

 

Memang pendidikan S2 dan S3 bukanlah segala-galanya, tetapi saya percaya pendidikan itu investasi. Maka Tuhan akan mengangkat kita dan menjadikan kita jauh lebih efektif bila kita menyediakan waktu bahkan berkorban dana untuk kuliah lanjutan. Tidak akan pernah ada sesal jika kita belajar lagi, namun penyesalan biasanya justru akan terjadi karena kita menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah lagi. Mulailah mendoakan kuliah lanjutan Anda! (Daniel Ronda)

 

 

Plagiasi dalam Menulis Skripsi/Tesis

Masalah plagiasi (menjiplak) harus mendapatkan perhatian khusus bagi setiap mahasiswa dan dosen yang memang berkecimpung dalam hal tulis menulis. Adalah kewajiban bagi setiap insan intelektual, calon sarjana dan sarjana untuk mengekspresikan pandangan atau karya ilmiahnya lewat tulisan. Namun sayang, dunia plagiasi saat ini semakin menjadi-jadi apalagi dengan mudahnya dunia teknologi saat ini, sehingga dengan “copy-paste” makalah atau skripsi/tesis bisa cepat selesai. Hal ini secara etika salah dan termasuk kategori pencurian hak karya orang lain.

Apa itu plagiasi (jiplak)? Suatu tindakan sengaja mengambil karya orang lain dengan “copy-paste” tanpa menyebutkan sumbernya, bahkan mengklaim menjadi karyanya sendiri.

Bagaimana bentuk-bentuk plagiasi skripsi saat ini?
1. Mengambil skripsi/tesis orang lain dan mengambilnya semua dengan catatan kaki sekalian, sehingga seolah-olah dibaca sepintas seperti hasil karya sendiri. Padahal tujuan pemberian catatan kaki adalah penulis sendiri yang membaca dan mengambil bagian kutipan dari buku itu. Ini praktik penipuan yang sudah mulai lazim dilakukan.
2. Mengubah kalimat-kalimat sedikit dari hasil copy-paste tanpa menyebutkan sumbernya. Jadi sebenarnya ide orang pun walau diulang (re-write) penulisannya tetap harus disebut dalam catatan kaki bahwa ide itu datang dari penulis yang diambil idenya.
3. Melakukan copy paste yang panjang sampai berhalaman-halaman, tapi hanya pada bagian awalnya saja yang dikutip dan disebutkan dalam catatan kaki. Ini juga plagiasi karena bagian yang sisa harus diperlakukan sama di mana harus menyebutkan sumbernya. Tidak ada salahnya menggunakan “Ibid” dalam catatan kaki.

Akibatnya, banyak tulisan tampak seperti kliping koran, di mana satu bagian ke bagian lain tidak ada kemulusan dalam bernarasi, tetapi seperti sebuah tulisan gado-gado yang dipaksakan jadi satu. Tidak nyaman membacanya. Dengan kemahiran dan teknologi “copy-paste” yang dahsyat mahasiswa tetap diharapkan menggunakan hati nurani serta integritasnya dalam menuliskan karya ilmiah. Karya jiplakan adalah pencurian dan itu bertentangan dengan hukum Tuhan serta membuat karya ilmiah itu sendiri akan kehilangan maknanya karena prosedurnya sudah melalui cara yang keliru. Semoga kebiasaan ini tidak diulang dalam penulisan karya ilmiah di sekolah-sekolah yang berlabel teologi. Para dosen harus waspada terhadap praktik ilegal ini (Daniel Ronda).

 

Page 4 of 10

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
  

Alamat Sekolah

Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray Makassar
Jl. G. Merapi 103 Makassar, 90114
Sulawesi Selatan, Indonesia
Email: sttjaffray@yahoo.com
Telp. 0411-3624129
Fax. 0411-3629549

Kontak Pascasarjana:
Email: pascasarjana.sttj@ymail.com
Telp/Fax. 0411-3619757

Copyright © 2012 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar. All Rights Reserved